music

small rss seocips Music MP3
Ayo bro dengerin music ini !!!

Minggu, 08 Mei 2016

Air Terjun Lider




Air terjun Lider terletak di lereng Gunung Raung berhawa sejuk dikawasan hutan lindung. Percikan buih air terjun menguraikan cahaya matahari menjadi spektrum warna pelangi yang menakjubkan diantara rindangnya pohon dengan akar yang menjulur seperti ular.
Tumpahan Air Terjun Lider memiliki terjunan air setinggi 60 meter dengan ketinggian 1.300 meter diatas permukaan laut dan berasal dari mata air pegunungan Raung. Di sisi air terjun utama juga terdapat 4 air terjun kecil yang merupakan bagian dari air terjun utama. Suasana di sekitar menjadi semakin eksotik dengan adanya dinding tebing berupa deretan batu berdimensi rata yang terlihat menggantung di antara dua jurang yang menghimpit air terjun tersebut. Dengan kondisi demikian tak pelak Air Terjun Lider merupakan air terjun terbaik dan sekaligus tertinggi di Banyuwangi.
 
Karena lokasinya terletak di hutan lindung petak 74, Blok Lider, di lereng timur Gunung Raung di kawasan Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Jambewangi, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Kali Setail, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyuwangi Barat maka air terjun ini diberi Nama Air Terjun Lider.
Untuk mencapai air terjun Lider medan yang dilalui cukup menantang dengan melewati beberapa hutan pinus, kebun tebu, kebun cengkeh dan menembus hutan lindung yang masih terjaga keasriannya.
Jika Anda beruntung, beberapa hewan seperti kera, burung kupu-kupu, capung atau serangga lain akan dapat kita jumpai di hutan yang terkenal akan keanekaragaman flora dan faunanya ini. 

Setelah perjalanan menempuh medan sulit akan terbayar setelah tiba di lokasi terjun.
Kemegahan tebing laksana tumpukan kristal-kristal alam yang tertata rapi dengan air terjun utama dengan ketinggian ± 100 meter dihiasi beberapa air terjun kecil membuat tempat ini nampak begitu indah dan perkasa.
 
Beberapa foto saya dan kawan-kawan C.A.T di depan  Air Terjun Lider. Air terjun ini sangat menarik dan tak kalah saing dengan air terjun yang berada diluar Kabupaten Banyuwangi. Dampaknya sangat terasa karena mengakibatkan kawasan ini menjadi ramai pengunjung.
 

 Selain memiliki pemandangan yang asri, wisata Air terjun ini juga sering dijadikan kegiatan Pramuka karena letaknya yang sangat cocok untuk kegiatan out bond karena arusnya sangat deras dan jalan menuju kelokasi sangat curam dan licin terutama di musim hujan.
 
TIPS MENUJU AIR TERJUN LIDER
- Pastikan kondisi kendaraan anda seluruhnya dalam keadaan baik karena medan yang dilewati sangatlah sulit dengan batu gunung runcing hampir di sepanjang jalan yang bisa membuat  Anda frustrasi.
 
- Air terjun Lider dicapai dengan mengikuti alur daerah aliran sungai yang mengarah pada air terjun itu sendiri. Sehingga perjalanan memerlukan kesiapan fisik untuk naik turun menyeberangi sungai secara zig-zag guna mencari jalur yang paling aman. Di beberapa tempat Anda harus turun dan naik pada tepian dengan kemiringan sekitar 60° sambil berpegangan pada akar tanaman liar.
 
- Anda mungkin harus berhati-hati dengan lintah/pacet yang ada di sini. Musim hujan mereka akan menempel tanpa terasa pada awalnya. Untuk berjaga, sebaiknya Anda membawa tembakau atau alkohol, agar lintah/pacet bisa dengan mudah dilepaskan. Bawa juga plaster luka, karena tidak ada yang menjamin Anda tidak akan terluka dalam perjalanan.
 
- Anda juga harus berhati-hati dengan tumbuhan Lateng, yaitu tumbuhan yang memiliki daun dengan bulu halus yang apabila mengenai kulit akan memberikan sensasi gatal pedih seperti tertusuk. Rasa ini akan berlangsung cukup lama dan mengganggu perasaan anda. Jadi, sebaiknya Anda memakai celana dan baju/kaos lengan panjang.
 
- Berhati-hatilah saat menyeberangi sungai karena bebatuannya cukup dingin dan licin, dan beberapa titik arus cukup kuat untuk menarik kaki dan membuat kita terpeleset. Amankan barang elektronik seperti ponsel atau kamera agar tidak tercebur ke dalam sungai. 
 
- Sebaiknya tidak datang pada musim hujan, karena medannya semakin berat . Dan jika menggunakan sepeda motor sebaiknya jangan memakai motor matic karena saya sendiri pernah jatuh tergelincir .

- Jangan lupa membawa bekal minuman dan snack favorit karena di lokasi air terjun hanya ada beberapa penjual makanan dan minuman yang harganya 2x lipat harga umumnya. 

Sekian info yang  bisa saya sampaikan....

                                                                                                                               SALAM
                                                                                                                         Adventure Arek culun


 

Minggu, 24 April 2016

AIR TERJUN SUAMI ISTRI

BANYUWANGI yang letaknya di ujung timur Pulau Jawa sudah sejak lama dikenal sebagai salah satu lumbung padi Jawa Timur. Kendati demikian, masih ada kelebihan yang dimiliki Banyuwangi, yakni sektor pariwisata yang bisa diandalkan, termasuk potensi wisata yang ada di kawasan Kalibaru.

 Bumi Blambangan rupanya tak puas hanya sekadar menjadi lumbung padi. Karenanya kabupaten yang disebut dengan The Sunrise of Java ini tak mau berdiam diri, dan seakan tak mau kalah dengan tetangganya, Bali, Banyuwangi ternyata juga punya segudang potensi pariwisata yang sudah tersohor ke penjuru dunia.Saat ini Pemerintah Kabupaten Banyuwangi diketahui tengah serius menggenjot beragam potensi wisata yang ada di Bumi Blambangan. 

Beberapa destinasi semakin diminati wisatawan. Sebut saja destinasi seperti Pulau Merah dan Kawah Ijen. Namun, yang tak kalah menarik tentunya destinasi di Kalibaru yang mengandalkan wisata perkebunan dan wisata lori, kereta api kecil. Meski saat ini Kalibaru terkesan ‘tenggelam’ dengan pengembangan wisata di kawasan Kawah Ijen atau Pulau Merah, namun daya tarik wilayah yang menjadi gerbang ke Bumi Blambangan dari arah barat ini akan membuat yang berkunjung ke Kalibaru tercengang dan ketagihan.

 Ya, Kalibaru menawarkan pesona alam yang mengundang decak kagum. Kecamatan yang letaknya di paling barat Banyuwangi ini sudah lama dikenal menjadi pintu masuk ke Kabupaten Banyuwangi dari arah barat melalui jalur selatan yang melewati Kabupaten Jember. 



Sebelum masuk wilayah Kalibaru melalui jalan darat dengan menggunakan mobil atau motor dari arah Jember, di daerah Gunung Gumitir pengunjung disambut patung seorang perempuan penari gandrung, tarian khas Bumi Blambangan. 

Adapun Kalibaru terletak di ketinggian sekitar 428 m di atas permukaan laut. Keadaan tanahnya adalah daerah pegunungan yang sangat subur sebab dikelilingi beberapa gunung, yakni Gunung Gending, Gunung Terong, Gunung Raung, Gunung Gumitir, dan Gunung Menyan sehingga udara terbilang sejuk.

Bahkan, pagi hari pun sering turun kabut sehingga udara dingin gunung mirip di negara-negara empat musim menjadi daya tarik tersendiri yang bisa memikat turis asing. Udara dingin yang biasa menyergap penduduk di sini, berkisar 20 hingga 28 derajat Celcius bisa jadi cocok untuk menjadi pilihan masyarakat urban yang tinggal di kota-kota besar memutuskan berlibur melepas penat dari rutinitas dan bisingnya kehidupan kota besar.

Karena dikelilingi gunung, lahannya banyak digunakan untuk perkebunan dan hutan. Tanaman yang dibudidayakan antara lain kopi, coklat, karet, teh, dan pinus. Yang menarik, ada patung tangan yang menggenggam coklat.

Tak hanya itu, hamparan sawah juga menjadi pemandangan tersendiri bagi wisatawan, khususnya yang datang dari kota besar, seperti Jakarta. Bahkan, wisatawan mancanegara dengan menumpang delman berkeliling Kalibaru menikmati pemandangan alam.

Suasana alam yang asri menbuat banyak wisatawan betah. Diperkirakan lahan yang dipakai untuk hunian penduduk berkisar 40 persen dari seluruh wilayah di Kalibaru. Sudah sejak lama wisatawan asing, khususnya dari Belanda datang ke Kalibaru.

Tak ketinggalan ada juga yang dari Belgia. Mereka biasanya datang tidak sendiri, melainkan bersama dengan keluarga. Bagi wisatawan dari Negeri Kincir Angin, kehadirannya di Kalibaru merupakan kunjungan napak tilas prestasi yang telah dilakukan para leluhurnya. 

Penduduk sekitar menamakan air terjun ini sebagai Tirto Kemanten karena ada dua aliran air yang sepintas mirip jejeran pengantin pria dan wanita. Air terjun Tirto Kemanten ditemukan oleh Mbah Citro Wardoyo yang membuka lahan (babad alas) dan menjadikan tempat ini sebagai tingkat terakhir dari tujuh air terjun di lereng Gunung Raung jalur Kalibaru, Banyuwangi. 


Beberapa foto saya dan kawan-kawan di depan  Air Terjun Tirto Kemanten. Air terjun ini pernah mengalami longsor sehingga terjadi kerusakan. Dampaknya kerusakan tersebut cukup terasa karena mengakibatkan kawasan ini menjadi sepi pengunjung. padahal kawasan ini sangat menarik dan indah bagi yang ingin berselfie apalagi anak-anak pacaran.

      

Selain memiliki pemandangan yang asri, wisata air terjun Wonorejo berdekatan dengan perkebunan kopi dan coklat. Jalur perkebunan menuju ke lokasi air terjun cukup terjal dan kurang bagus, terutama di musim hujan. Wisatawan yang menginap di Margo Utomo Resort/Cottage bisa memanfaatkan fasilitas mobil jeep yang disediakan hotel tersebut.
sekian info yang  bisa saya sampaikan....

                                                                                                                               SALAM
                                                                                                                         Adventure Arek culun







Senin, 15 Februari 2016

Batu Lubang

Image result for batu lubang Image result for batu lubang
SIBOLGA - Masyarakat Indonesia dan khususnya warga Sumatera Utara (Sumut) belum banyak mengenal dan mengetahui bahwa Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) memiliki sebuah peninggalan situs sejarah perjuangan saat jaman kolonial berupa jalan terowongan yakni Batu Lubang. 

Lokasi terowongan ini terletak di Km 8, Kawasan Dusun Simaninggir, Desa Bonandolok, Kecamatan Sitahuis atau sekitar 15 menit perjalanan dari pusat Kota Sibolga atau sekitar 18 Km dari pusat Kota Pandan.

Di tempat ini anda akan menyaksikan keunikan Batu Lubang tersebut lengkap dengan cerita sejarah pembangunannya.

Cerita sejarah pembuatan Batu Lubang itu bisa anda temukan di dinding bukit sekitar bangunan yang berukuran paling besar yang ada di kawasan itu.

Di dinding bukit tersebut ada sebuah ornamen yang sengaja dibangun dari semen yang menceritakan tentang sejarah pembangunan Batu Lubang itu.

Namun tidak banyak cerita pasti mengenai tahun dan lama pengerjaan Batu Lubang. Bahkan tahun pembuatannya ada yang menyebutkan tahun 1930 atau sekitar 84 tahun silam serta tahun 1900 atau sekitar 114 tahun silam.

Namun terlepas dari kontroversi tahun pembangunan Batu Lubang tersebut, yang pasti tempat itu dibangun pada masa kolonial Belanda dengan melibatkan rakyat Tapanuli (khususnya warga Sibolga dan Tapanuli Tengah) serta pejuang – pejuang kemerdekaan yang menjadi tawanan Belanda masa itu.

Tujuan pembukaan Batu Lubang itu adalah untuk mempermudah sarana transportasi menuju Tarutung sekaligus juga untuk mempermudah pengangkutan hasil bumi dari tanah Batak dan penumpasan laskar atau pejuang kemerdekaan Indonesia.

Maka rakyat dan pejuang saat itu dipaksa bekerja (kerja Rodi) untuk membuka jalan dan Batu Lubang tersebut.

Sehingga sekarang ini kita dapat menikmati perjalanan Sibolga – Tarutung berkat buah tangan rakyat Tapanuli dan pejuang yang menjadi tawanan Belanda masa itu. Konon ceritanya banyak darah tertumpah atau rakyat yang menjadi korban dari pekerjaan pembukaan jalan dan Batu Lubang itu, terutama pada pembukaan jalan pada terowongan.

Tapi tidak ada catatan sejarah juga berapa banyak rakyat Tapanuli dan pejuang kemerdekaan yang menjadi korban bahkan dari cerita juga, mereka yang menjadi korban dibuang begitu saja ke jurang yang berada di salah satu sisi Batu Lubang ini.

Mereka yang meninggal atau merenggang nyawa dalam pekerjaan pembuatan jalan terowongan itu karena merasa keletihan dan kelelahan karena tak kuat dan kuasa menahan derita pemaksaan kerja.

Para pekerja dipaksa bekerja keras dengan sekuat tenaga tanpa istrahat dan makanan yang cukup untuk membuat terowongan tersebut.

Sementara untuk membuka jalan terowongan itu, para pekerja harus menembus batu dinding gunung Bukit Barisan yang keras dengan alat seadanya yakni pahat dan martil.
Akhirnya dengan banyak korban jiwa dari para tawanan (rakyat Tapanuli dan laskar kemerdekaan) berhasil membuka dua unit jalan terowongan.

Ukurannya kala itu hanya bisa dilintasi oleh mobil kecil. Namun seiring perkembangan jaman, lebar badan terowongan mengalami pelebaran. Namun sentuhan tersebut dilakukan tanpa mengurangi makna dan bentuk fisik dari terowongan sehingga kini dapat dilalui oleh truk jenis Fuso.

Kedua unit Batu Lubang yang dikerjakan oleh rakyat Tapanuli dan laskar kemerdekaan yang menjadi tawanan kolonial Belanda pada masa itu, satu unit berukuran kecil sepanjang 8 meter dan satu terowongan besar berukuran panjang sekitar 30 meter.
Kedua terowongan ini terletak terpisah, namun berada dalam satu ruas jalan dengan jarak antara keduanya sekira 50 meter.

Bupati Tapanuli Tengah (Tapteng) Raja Bonaran Situmeang membenarkan sejarah pembangunan Batu Lubang tersebut.

Bonaran juga menyatakan Batu Lubang dan wilayah sekitarnya merupakan salah satu tempat destinasi wisata yang menarik di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng).

“Selama ini, gaung Batu Lubang tersebut belum besar untuk menarik wisatawan, karena selain fasilitas wisata disana yang masih kurang mendukung dan demikian juga terhadap pengelolaan kawasan, juga diakibatkan faktor nama Batu Lubang yang belum terasa memiliki gaung besar dan makna istimewa,” kata Bonaran.

Menurut Bonaran, nama Batu Lubang terasa tak bernilai dan terdengar biasa atau tidak memiliki roh tertentu. Karenanya tidak terlihat nuansa dan siratan kandungan makna serta sejarah didalamnya.

Sehingga, orang pun (khususnya masyarakat luar daerah) terlihat tidak begitu banyak mengetahui dan berkunjung ke lokasi itu.

“Maka untuk merubah kondisi ini, Pemkab Tapteng sudah menyusun sebuah konsep dan grand design disana, pertama yang akan kita lakukan adalah dengan mengganti nama Batu Lubang menjadi Terowongan Belanda, sehingga akan terlihat lebih nge-tren dan menjual,” ujarnya.

Namun ungkap Bonaran, pergantian nama Batu Lubang menjadi Terowongan Belanda ini tentunya harus disampaikan dan dibicarakan terlebih dahulu dengan tokoh – tokoh masyarakat yang ada di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng).

Dimana pelaksanaannya diharapkan dapat dilakukan sebelum perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Tapanuli Tengah pada 24 Agustus mendatang.

“Artinya disini, deklarasi pergantian nama Batu Lubang menjadi Terowongan Belanda ini kita harapkan dapat dilakukan pada perayaan HUT Kabupaten Tapteng pada tanggal 24 Agustus 2014 ini,” beber Bonaran.

Kemudian, sambung Bonaran, konsep dan grand desaign berikutnya, tanpa mengurangi makna sejarah atau Herritage dari Batu Lubang yang telah memakan banyak korban orang Batak atau rakyat Tapanuli tersebut, adalah dengan mengalihkan rute kendaraan umum dan kendaraan besar jenis truk ke jalan baru Rampa – Poriaha yang dalam waktu dekat akan selesai dibangun tersebut.

Rute Batu Lubang ini diharapkan nantinya hanya akan dilalui oleh kendaraan pribadi dan kenderaan jenis pariwisata.  

“Selanjutnya di sisi Batu Lubang akan dibangun jembatan. Jembatan ini diharapkan dapat terbangun pada tahun 2015 mendatang karena dari jembatan ini nantinya juga akan di design Pariwisata disitu,” ujarnya.

Kemudian sebut Bonaran, pihaknya juga akan menambah nuansa dan relief – relief serta bangunan di sekitar terowongan untuk menghidupkan sejarah lokasi.

Selama ini pemeliharaan nuansa dan relief disana terbiarkan, karena keterbatasan anggaran, tapi nantinya hal tersebut akan terpelihara melalui pengalokasian anggaran pemeliharaan setiap tahun.

Di kawasan Batu Lubang itu juga anda bisa menikmati destinasi wisata lain berupa pemandangan air terjun. Air terjun ini mengalir dari badan dinding Batu Lubang dan jatuh ke sebuah lembah yang didalamnya terdapat aliran sungai. Jarak sungai ke titik jatuh air terjun dari badan dinding batu lobang tersebut diperkirakan ketinggiannya sekitar 100 meter.
Kemudian suguhan destinasi wisata lainnya, anda bisa melihat langsung panorama alam Bukit Barisan dan panorama alam keindahan Teluk Tapian Nauli.
Di Teluk Tapian Nauli ini anda akan melihat luasan laut membiru bersamaan dengan isi permukaannya seperti pulau – pulau diantaranya Pulau Poncang Gadang dan Poncang Ketek, Pulau Mursala, Pulau Labuan Angin dan lainya.
Selanjutnya, anda juga bisa melihat kapal – kapal tanker pengangkut bahan bakar minyak (BBM) untuk Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Pertamina Sibolga dan kapal tanker lain seperti pengangkut Batu Bara untuk PLTU Labuan Angin yang sedang berlabuh serta kapal – kapal penangkap ikan milik nelayan modern dan tradisional dan ratusan unit Bagan Pancang (rumah – rumah penangkap ikan).
Selain itu juga, anda akan disuguhi sensasi udara sejuk yang akan menghempas tubuh dan penciuman (hidung) anda.
Namun yang tak kalah sensasinya juga adalah, perjalanan menuju lokasi Batu Lubang, baik itu keberangkatan dari arah Tapanuli Utara menuju Sibolga - Tapanuli Tengah dan sebaliknya keberangkatan dari Sibolga menuju Tapanuli Utara, anda akan disuguhi jalan berkelak kelok.
Sebagaimana diketahui, Jalan Nasional Sibolga – Tarutung yang memiliki panjang 66 Km, dikenal sebagai satu – satunya jalan unik di dunia dengan jumlah kelokan sekitar 1.200 unit atau dengan kata lain, sepanjang perjalanan dari dan kedua daerah itu anda akan dihadapkan dengan kondisi jalan yang berkelok. 

sumber: http://daerah.sindonews.com/read/886034/29/terowongan-batu-lubang-saksi-bisu-kekejaman-kolonial-1406187400/2

PERANG PUNGKASAN RAKYAT BLAMBANGAN MELAWAN PENJAJAH BELANDA (NAPAK TILAS PUPUTAN BAYU)

Setiap tahun warga Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Banyuwangi menggelar acara Napak Tilas Puputan Bayu untuk mengenang perjuangan heroik laskar kerajaan Blambangan - yang merupakan cikal bakal Kabupaten Banyuwangi - berperang melawan penjajah Belanda pada tahun 1771 lalu. Bagi Pemda Banyuwangi napak tilas ini dimaknai sebagai wujud meningkatkan patriotisme dan semangat pahlawan melawan penjajah. Sebuah ajang refleksi pembelajaran sejarah yang tentunya sangat diperlukan bagi generasi masa kini.

Napak tilas perang Puputan Bayu, Songgon, Bayuwangi.
Courtesy film Puputan (sumber :Harianjambi.com)
Selain warga setempat, napak tilas juga diikuti peserta yang datang dari berbagai wilayah Banyuwangi, yang berasal dari berbagai elemen, mulai dari dinas/instansi, pelajar, mahasiswa dan umum.
Peserta napak tilas terdiri perorangan maupun beregu menyusuri sepanjang jalur perang Puputan Bayu. Setiap tahun jarak tempuhnya bisa berubah, sesuai dengan pertimbangan tertentu.
Untuk tahun 2015 peserta menempuh jarak 9 kilometer yang terdiri dari 2 kilometer jalan aspal dan 7 kilometer jalan setapak ditengah hutan, dimulai dari kantor Kecamatan Songgon dan berakhir di kawasan wana wisata Rowo Bayu, di Desa Bayu, Songon.
Wisata Banyuwangi
Kirab pusaka (sumber : Detik.com)
Selain itu ada yang berbeda dalam acara napak tilas perang Puputan Bayu. Bersamaan dengan acara tersebut, warga Desa Bayu, Kecamatan Songgon menggelar kirab pusaka perang dan kirab tumpeng hasil bumi. Kirab ini menempuh 3 kilometer, juga di finish di petilasan Prabu Tawangalun, yang berada di wana wisata Rowo Bayu.
Terdapat ratusan pusaka yang dikirab, terdiri dari keris, tombak. Kesemua pusaka tersebut merupakan warisan leluhur yang digunakan saat perang Bayu. 
Perang Puputan Bayu

Perang Puputan Bayu terjadi pada Agustus 1771 sampai Desember 1772, tercatat sebagai puncak perlawanan prajurit Blambangan terhadap Belanda. Dalam Bahasa Osing, puput mempunyai arti habis, puputan berarti habis-habisan, maka Perang Puputan Bayu berarti perang habis-habisan di daerah Bayu, yang sekarang masuk wilayah administratif Kecamatan Songgon, Banyuwangi.
Perang Puputan Bayu yang merupakan perlawanan rakyat Blambangan terhadap kolonialisme Belanda tercatat sebagai perang terkejam dan brutal  yang pernah terjadi sepanjang sejarah Indonesia. Pihak Belanda sendiri mengakui bahwa ini merupakan peperangan yang sangat menegangkan, paling kejam, dan paling banyak memakan korban jiwa dan harta benda dari semua peperangan yang pernah dilakukan Belanda di Indonesia.
Tindakan Belanda yang sewenang-wenang dan kejam menyebabkan kebencian rakyat dimana-mana. Pejuang Blambangan Jagapati menghimpun rakyat Blambangan di benteng Bayu. Ribuan penduduk rela meninggalkan desa mereka untuk bergabung dengan Jagapati.
Puncaknya pada tanggal 18 Desember 1771, para pejuang Blambangan melakukan serangan umum secara Puputan atau habis-habisan terhadap Belanda. Pertempuran berkobar di Songgon dan Susukan mengakibatkan kekalahan pasukan VOC dan terbunuhnya letnan Reigers. Namun pertempuran paling brutal belum lagi pecah. Pada serangan terhadap pasukan VOC kedua di bulan yang sama, penyergapan mendadak yang dilakukan para pejuang Bayu bersamaan dengan deras hujan menyebabkan pasukan VOC yang dikomandani Vaandrig Schaar menderita kekalahan parah.
Para prajurit Blambangan maju ke medan perang secara serentak dengan  berteriak-teriak histeris untuk membangun semangat juang mereka dan meruntuhkan semangat musuh, dengan membawa senjata apa adanya seperti keris, golok, pedang, tombak, dan senjata api yang mereka peroleh dari hasil rampasan dari tentara VOC atau yang di dapat dari orang-orang inggris yang telah membuka kantor dagangnya di Tirtaganda.
Pangeran Repeg Jagapati memimpin  peperangan ini, namun ia gugur akibat luka-luka dalam perang Puputan Bayu ini.
Dalam  peperangan ini pasukan VOC benar-benar di hancur luluhkan. Sebagian dari mereka digiring ke parit-parit jebakan yang telah sengaja dibuat oleh pejuang- pejuang Blambangan untuk kemudian menghujaminnya dengan senjata dari atas.
Vaandrig Schaar yang merupakan komandan pasukan VOC, Letnan Kornet Tinned dan tak terhitung banyaknya tentara Belanda lainnya yang terbunuh dalam  peperangan tersebut. Kepala Schaar dipotong, kemudian ditancapkan pada ujung tombak dan diarak keliling desa-desa.
Setelah itu Belanda melakukan cooling down sambil menunggu bantuan tenaga dan amunisi sebelum melakukan serangan balasan besar-besaran.
Pada tanggal 11 Oktober 1772 Belanda melakukan serangan mengejutkan. Bayu digempur habis-habisan dengan tembakan-tembakan meriam oleh Belanda. Heinrich dengan 1.500 pasukannya menerobos dan meyerang benteng Bayu dari sayap kiri.
Melalui pertempuran sengit akhirnya Bayu dapat direbut VOC. Para pejuang Bayu yang tertangkap diperintahkan oleh Heinrich untuk dibunuh. Kemudian kepalanya dipotong dan digantung di pohon- pohon atau ditancap-tancapkan di tonggak pagar di sepanjang jalan desa.
Itulah akhir dari sebuah peperangan habis-habisan yang sangat mengerikan yang telah merenggut ribuan bahkan puluhan ribu korban. Baik dari pihak musuh dan terutama dari pihak rakyat Blambangan. Sebanyak 60 ribu rakyat Blambangan gugur, padahal jumlah penduduk Blambangan ketika itu tak lebih dari 65 ribu orang.
Dalam dokumen yang ditulis J.K.J. de Jonge pada 1883, yang mengutip surat Gubernur Jenderal Reiner de Klerk kepada pemimpin VOC tertanggal 31 Desember 1781, Puputan Bayu yang berlangsung sekitar 1 tahun 4 bulan itu membuat pemerintah kolonial Belanda harus mengeluarkan dana yang luar biasa besar. Setidaknya dana yang dikeluarkan setara dengan 80 ton emas.
Setelah Puputan Bayu, wilayah Blambangan (Banyuwangi) menjadi lengang. Disamping amuk kematian yang disebabkan oleh bedil VOC, juga kelaparan, wabah penyakit, dan migrasi besar-besaran orang Blambangan ke luar  daerah merupakan faktor berkurangnya jumlah penduduk Blambangan.
Akhir tahun 1772 penduduk Blambangan tinggal 3.000 jiwa atau 8,3% dari jumlah penduduk yang ada sebelum pendudukan Belanda.
Akhirnya, berdasarkan kisah pertempuran Puputan Bayu tersebut, DPRD Banyuwangi pada sidangnya tanggal 9 Mei 1995 lewat cara aklamasi menetapkan 18 Desember sebagai hari jadi Banyuwangi. Jadilah napak tilas Puputan Bayu diselenggarakan sebagai rangkaian kegiatan hari jadi Kabupaten Banyuwangi.

Sumber :
- http://lepasparagraf1.blogspot.co.id/2011/03/petaka-blambangan-puputan-bayu-minak.html
- http://harianjambi.com/berita-laskar-tangguh-dari-ujung-timur-jawa.html
- http://www.academia.edu/7512680/Perang_Puputan_Bayu_Di_Blambangan_Pada_1771
- http://banyuwangikab.go.id/berita-daerah/ribuan-orang-napak-tilas-susuri-jalur-perang-puputan-bayu.html
- https://news.detik.com/berita-jawa-timur/3094611/masyarakat-banyuwangi-gelar-napak-tilas-dan-kirab-pusaka